MMUTP…Ada Apa?

"mari berbagi bersama"

Kejam Mana STIP dengan IPDN

Seharusnya memang tidak seperti ini, karena ini bukan bentuk pembinaan, karena ini salah.
Rabu, 10 Februari 2010, 07:53 WIB
Amril Amarullah
Kekerasan di STIP, Jakarta (youtube.com)
VIVAnews – Menteri Perhubungan Freddy Numberi diminta untuk turun tangan segera menyelesaikan kasus kekerasan yang terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, yang dilakukan taruna senior terhadap juniornya.

Video amatir yang terekam beberapa waktu lalu, menunjukan tindakan kekerasan yang segera dituntaskan hingga selesai. “Harus dikejar pelakunya meski sudah lulus, karena itu menteri harus turun tangan,” ujar mantan tim evaluasi IPDN, Ryas Rasyid, kepada tvOne, Rabu 10 Februari 2010.

Menurutnya, kasus di STIP ini persis dengan yang di IPDN, bahkan lebih kejam dan sangat berbahaya. Karena rata-rata korbannya itu tewas setelah siswanya lulus atau dua-tiga tahun kemudian. “Bahkan ini jelas lebih kejam. dan lingkungan kampus pastinya tahu atas kasus ini,” tuturnya.

Seharusnya memang tidak seperti ini, karena ini bukan bentuk pembinaan, karena ini salah. “Ini harus dikejar karena ini kejahatan manusia,” ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sudah mengetahui beredarnya video kekerasan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta. Pelaku kekerasan dalam video yang direkam pada 2006 itu, sudah lulus dan diwisuda.

“Saat kami mengetahui video kekerasan itu, pelakunya sudah diwisuda. Karena tidak ada laporan dari taruna korban,” kata juru bicara Kementerian Perhubungan Bambang S Ervan kepada VIVAnews.

Menurut Bambang, korban pemukulan yang merupakan angkatan 48 juga sudah diwisuda. Kejadian kekerasan pada lorong-lorong kampus itu terjadi pada tengah malam. “Pelakunya adalah Polisi Siswa. Itu diketahui dari ban pada lengan pelaku. Tapi, Polisi Siswa sudah tidak ada lagi sejak 2008,” ujar Bambang.

Bambang menegaskan, sejak kejadian itu STIP melakukan perubahan. Sejak 2008, STIP terus mulai merombak beberapa sistem termasuk keberadaan Polisi Siswa. “Sekarang namanya Pembina Taruna dan itu bukan dari taruna senior. Sekelas instruktur jadi bukan sesama siswa,” kata Bambang.

Dalam gambar rekaman terlihat tiga mahasiswa junior STIP Jakarta menjadi bulan-bulanan pemukulan seniornya. Dua di antaranya mengalami luka di wajah dan bibir hingga berdarah. Kekerasan ini terekam dalam sebuah video amatir yang beredar.

Video ini memperlihatkan sejumlah taruna junior dibariskan di sebuah lorong. Mereka kemudian ditempeleng dan dipukul. Tampak seorang senior memegang kepala junior, sementara senior lainnya menampar wajah sang junior. Tak lama bibir junior berdarah dan menetes di telapak tangannya.

Kekerasan STIP Kejahatan “Sistemik”
Seharusnya, pembinaan yang tepat bukanlah dengan cara kekerasan.
Rabu, 10 Februari 2010, 07:32 WIB
Amril Amarullah

VIVAnews – Kasus kekerasan yang terjadi di sekolah kedinasan, Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) dinilai mantan tim evaluasi IPDN, Ryas Rasyid adalah bentuk kejahatan sistemik, yang harus diusut secara tuntas.

“Ini kejahatan sistemik, maksudnya karena sistem pendidikan yang keliru, kaya Century saja,” ujar Ryas Rasyid sambil tertawa, saat di wawancara tvOne, Rabu 10 Februari 2010.

Menurutnya, kasus ini harus diusut secara tuntas, jangan sampai terus menciptakan penjahat-panjahat baru setiap tahunnya. Apalagi itu sekolah pemerintah. “Akan jadi preman nantinya dia di masyarakat,” katanya.

Seharusnya, pembinaan yang tepat bukanlah dengan cara kekerasan, dan ini bukan bentuk mencari disiplin bagi para siswa sekolah. Memang harus ada hukum fisik, tetapi bukan untuk dipukuli.

Video kekerasan institusi pendidikan kembali terjadi. Kali ini, terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, dimana sejumlah siswa senior terlihat memukuli wajah juniornya hingga memar.

Hal itu dilakukan berkali-kali oleh siswa senior secara bergantian. Seperti yang terekam dalam video amatir yang diambil dari tvOne, Selasa 9 Februaru 2010 terlihat satu persatu siswa senior tengah memukuli junironya.

Dalam gambar tersebut, terlihat tiga mahasiswa junior Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta menjadi bulan-bulanan pemukulan seniornya. Dua di antaranya mengalami luka di wajah dan bibir hingga berdarah.

Kekerasan ini terekam dalam sebuah video amatir yang beredar. Belum diketahui kapan tepatnya video amatir ini diambil, namun dikabarkan video ini beredar sekitar awal Februari 2010 ini.

Video ini memperlihatkan sejumlah taruna junior dibariskan di sebuah lorong. Mereka kemudian ditempeleng dan dipukul. Tampak seorang senior memegang kepala junior, sementara senior lainnya menampar wajah sang junior. Tak lama bibir junior berdarah dan menetes di telapak tangannya.

Hingga kini belum diketahui siapa orang yang mengambil gambar adegan tersebut, dan penyebar video tersebut. Motif dan tujuan merekam adegan tersebut masih belum jelas.

Kekerasan di STIP
Ajang Balas Dendam
Sejumlah siswa senior terlihat memukuli wajah juniornya hingga memar.
Selasa, 9 Februari 2010, 17:25 WIB
Arry Anggadha
Kekerasan di STIP, Jakarta (youtube.com)
Beredar Video Kekerasan di STIP Jakarta

VIVAnews – Kekerasan di institusi pendidikan terus berulang terjadi. Kali ini kekerasan senior terhadap yuniornya terjadi di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), Jakarta.

Dalam tayangan video yang beredar di publik, sejumlah siswa senior terlihat memukuli wajah juniornya hingga memar. Aksi mereka pun menjadi pembahasan serius dalam Yahoo!Answers, Selasa 9 Februari 2010.

Pembaca pemilik akun en’ha menyatakan, aksi kekerasan itu sangat menyeramkan.
Makanya gak heran kalo banyak yang milih kuliah keluar negri. Semua berawal dari didikan yang diberikan orang tua, mereka tidak akan melakukan kekerasan hanya untuk menunjukan senioritasnya kalau sejak kecil mereka sudah dibiasakan untuk menentang kekerasan demi alasan apapun juga. Hukum dan sanksi yang telah diberikan untuk pendahulunya yang melakukan tindak kekerasan terbukti tidak membuat yang lain JERA.”

Pembaca dengan akun dark menyatakan, “Ya bginilah budaya kekerasan yang udah dipupuk dan dibudidayakan dari kecil. Kekerasan akan menjadi hal yang dianggap lumrah.”

Didiet C menyatakan, meminta hukum dimajukan dalam tindak kekerasan itu.
Untuk itulah kita juga harus mempertanyakan hal ini kepada hukum dan undang-undang yang telah dibuat. Setahu kita memang benar bahwa pasal dan undang-undang mengenai kekerasan sudah ada, namun permasalahannya sudah tegaskah hukum kita ini di dalam institusi pendidikan saat ini. Tentunya hal ini juga tidak lepas dari pengawasan guru atau dosen selaku pengajar didalam institusi tersebut. Untuk itu budaya perploncoan itu sudah seharusnya dihapus karena tidak ada segi positifnya bagi para siswa, yaitu dengan memasukkan budaya perploncoan tersebut ke dalam pasal dan undang-undang kekerasan dan tentunya harus mulai diumumkan dan segera diberlakukan.

Untuk pelaku kekerasan dalam institusi tersebut harusnya segera dikeluarkan secara tidak terhormat dan diproses secara hukum yang berlaku dan buatlah peraturan yang baru bahwa plonco atau tindak kekerasan dalam institusi pendidikan adalah HARAM hukumnya dan tidak boleh dilakukan dalam bentuk apapun juga.”

Radhita juga ikut berkomentar di Yahoo!Answers. Menurutnya, kegiatan ospek yang selalu diwarnai aksi kekerasan sudah menjadi tradisi turun temurun di beberapa institusi pendidikan.
Aturan umum yang tampaknya dipakai: junior adalah pendatang baru yang mesti tunduk dengan segala aturan yang berlaku disini. Dan manifestasi dari sebuah kekuasaan lebih mudah ditampilkan dalam bentuk tindak kekerasan, tindakan untuk mampu melakukan kekerasan dan tidak boleh (haram) untuk dilawan.

Yang terjadi di STIP dan STPDN hanyalah sebagian kecil bentuk kekerasan turun menurun yang menghinggapi institusi yang seharusnya mengajarkan siswanya lebih bijaksana dan berpikir logis.

Untuk bisa membabat habis tradisi seperti ini, ada beberapa hal yang perlu disimak atau diperhatikan:

1. Meredefiniskan kembali istilah Junior & Senior dalam lingkungan pendidikan. (merubah sudut pandang bersama)
Saya ingin mengutip ungkapan terkenal dari Ki Hajar Dewantoro, bapak pendidikan kita, yang bunyinya “Ing Ngarso Sun Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”.
Yang artinya kira-kira: di depan memberi teladan, ditengah membimbing (memotivasi, memberi semangat, menciptakan situasi kondusif) dan dibelakang mendorong (dukungan moral).

Jadi bila yang lebih dahulu masuk kelembaga pendidikan tersebut dan mendapat gelar senior lalu memberi teladan kekerasan, kemungkinan besar akan menjadikan penerusnya sebagai pewaris pelaku tindak kekerasan untuk generasi berikutnya.

2. Senior yang pernah mengalami pengalaman pahit ditahun-tahun sebelumnya, dan kebetulan mereka selamat, semestinya bersyukur dan menyadari bahwa perlakuan tidak berprikemanusiaan seperti ini tidak patut dilakukan lagi kepada junior mereka. (kontrol internal individu)

3. Mekanisme pengawasan. Entah karena kurang tenaga pelaksana atau tenaga pengawas, seharusnya pengelola institusi pendidikan yang bersangkutan tidak membuka lebar peluang tindak kekerasan yang terjadi dengan membiarkan “senior” berinteraksi secara langsung dengan “junior” selama masa orientasi apalagi untuk institusi yang sudah punya track record kekerasan, kecuali jika memang ingin nyentrik dan unik dengan cara-cara demikian. (kontrol penyelenggara)

4. Untuk setiap perbuatan keji yang terbukti sudah semestinya ditindaklanjuti dengan proses hukum yang berlaku. (faktor ekternal)

5. Mencari alternatif cara penyelenggaraan OSPEK yang lebih berbudaya dan beradab, dengan menggunakan virtual tour berbasis komputer atau arisan bareng misalnya.”

Selfpity menyatakan bahwa tindakan dari para senior STIP itu adalah salah.
Sebenarnya juga, kalau mau , mereka dan pihak terkait bisa dan mampu untuk memutus kebiasaan buruk ini, sayangnya mereka tidak mau. Mereka hanya menutup mata menutup telinga dan menutup mulut dan menganggap semua ini ga terjadi.

Saya usul dibuat badan khusus anti kekerasan dalam lembaga pendidikan, haha. Semisal KPK, Komisi Pemberantasan Kekerasan. Atau Komisi anti Bullying. Supaya seriuslah. Ngurusin kekerasan di kampus/sekolah.

Yasril menilai, saat ini sistem pendidikan di Indonesia salah.
Sistem pendidikan saat ini terlalu fokus pada peningkatan logika dengan mengesamping pembentukan Karakter, Moral dan Agama. Contohnya ditingkat SD anak-anak dipusing dengan matematika yang rumit seharusnya pada tingkatan tersebut anak difokus dibentuk karakter, moral dan dasar agama. menurut saya sistem pendidikan yang baik adalah sebagai berikut :
1. tingkat SD : Fokus Karakter, Moral dan Agama 90% dan Logika 10%
2. tingkat SMP : Fokus Karakter, Moral dan Agama 80% dan Logika 20%
3. tingkat SMA : Fokus Karakter, Moral dan Agama 70% dan Logika 30%
4. tingkat perguruan tinggi : Fokus Karakter, Moral dan Agama 50%, Logika 10% dan Life Skil 40%
.”

Pemilik akun sexy ikut berkomentar. Menurutnya, sekolah tinggi itu lebih baik ditutup saja.
Daripada sekolah cuma buat ajang balas dendam mendingan ditutup aja. Masak Indonesia mau dipimpin oleh orang-orang macam mereka.

Atau langsung diusut saja para senior itu. Malu-maluin saja. Kekerasan kayak gitu hanya biasa dilakukan preman pasar. Bukan pelajar STIP.

Aksi Kekerasan di Kampus STIP Terjadi 2006
Pesta sabu-sabu yang diduga dilakukan di dalam kampus juga ditolak tegas Ketua STIP.
Selasa, 9 Februari 2010, 13:55 WIB
Eko Priliawito
Kekerasan

VIVAnews – Kekerasan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta kembali terjadi. Tiga mahasiswa junior dipukuli sejumlah seniornya di dalam kampus. Dua mahasiswa bahkan mengalami luka di wajah dan bibir.

Gambar tersebut ditayangkan TVOne dalam program ‘Apa Kabar Indonesia Siang.  Dalam gambar tersebut terlihat tiga mahasiswa yang lebih mudah berbaris dan dipukuli bergantian. Pukulan pada bagian perut berkali-kali terjadi. Bahkan bagian wajah juga tidak luput dari sasaran penganiayaan.

Namun saat dikonfirmasi mengenai kejadian penganiayaan ini, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Yan Riswandi menyampaikan bahwa penganiayaan itu terjadi pada 2006. Dan merupakan rangkaian kejadian penganiayaan di kampus itu pada tahun yang sama.

“Sejak 2008 STIP melakukan perubahan dan persitwa itu tidak ada lagi,” ujar Riswandi saat dihubungi VIVAnews, Selasa 9 Febuari 2009.

Menurut Riswandi, reformasi dibidang pendidikan sudah dilakukan juga dalam bidang pembinaan dan sarana pengawasan. “Seluruh areal kampus telah dipasangi CCTV. Kami juga telah memperbaiki sumber daya dalam bidang organisasi,” ujarnya lagi.

Riswandi berani memastikan kalau kejadian itu pada 2006, karena bisa dilihat dari tanda kepangkatan. Tanda pangkat pada seragam mahasiswa ada di pundak dan 2008 telah diubah menjadi di lengan sejak tahun 2008.

Sementara soal pesta sabu-sabu yang diduga juga dilakukan di dalam kampus juga ditolak tegas Riswandi. Dia meyakinkan kalau kejadian itu berlangsung di luar kampus.

“Wajah-wajah yang ada pada gambar itu sudah lulus 2009 lalu. kejadian itu berada di luar lingkungan STIP. Seluruh kamar di STIP tidak menggunakan karpet,” ujarnya lagi.

Diperkirakan petas narkoba itu berlangsung di rumah siswa atau kost mahasiswa. “Saya tidak tahun tempatnya dan itu bukan kewenangan STIP karena di luar sekolah,” ujar dia.

Laporan: Arnes Ritongan| Jakarta Utara

‘Lorong Pembantaian’ STIP Dipasangi CCTV
Lorong-lorong itu dipasangi CCTV karena kerap terjadi kekerasan.
Selasa, 9 Februari 2010, 10:54 WIB
Ismoko Widjaya

VIVAnews - Video kekerasan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta beredar. Kini, Kementerian Perhubungan yang membawahi STIP sudah melakukan perubahan sistem di STIP Jakarta. Termasuk pemasangan kamera CCTV di lorong-lorong tempat berlangsungnya kekerasan.

“Sekarang di lorong-lorong itu dipasangi CCTV sejak 2008. Itu untuk mengawasi lorong-lorong itu,” kata juru bicara Kementerian Perhubungan Bambang S Ervan kepada VIVAnews, Selasa 9 Februari 2010.

Bambang menjelaskan, lorong-lorong itu dipasangi CCTV karena kerap terjadi kekerasan di lokasi itu. Terakhir, dalam video yang beredar dua korban yang diketahui bernama Manurung Hutagalung dan Manuputty juga ‘dibantai’ di lokasi itu.

Menurut Bambang, pelaku dan korban dalam video kekerasan yang direkam pada 2006 itu sudah lulus. Semua sudah diwisuda. Tidak ada tindakan dari sekolah karena tidak ada laporan yang masuk.

“Biasanya kekerasan itu terjadi tengah malam. Dalihnya, acara pembinaan. Tapi saat ini semua sudah tidak ada,” ujar dia. Bambang mempertegas pelaku dalam kekerasan itu adalah dari unsur Polisi Siswa.

“Tetapi saat ini Polisi Siswa sudah tidak ada lagi dan diganti dengan Pembina Taruna. Pembina Taruna sekelas instruktur atau pengajar, bukan dari siswa,” tegas dia.

Selain pemasangan cctv dan menghilangkan Polisi Siswa, STIP juga sudah melakukan perubahan lain. Saat ini, asrama tidak lagi diperuntukkan bagi Taruna senior.

Asrama hanya disediakan bagi taruna tingkat I dan II. Atau sampai dengan semester tiga. “Itu untuk menjaga jarak antara junior dengan senior dan menghindari kontak fisik,” kata Bambang.

Seperti diketahui, dalam gambar rekaman terlihat tiga mahasiswa junior STIP Jakarta menjadi bulan-bulanan pemukulan seniornya di sebuah lorong sekolah. Dua di antaranya mengalami luka di wajah dan bibir hingga berdarah.

Kekerasan ini terekam dalam sebuah video amatir yang beredar. Video ini memperlihatkan sejumlah taruna junior dibariskan di sebuah lorong. Mereka kemudian ditempeleng dan dipukul.

Tampak seorang senior memegang kepala junior, sementara senior lainnya menampar wajah sang junior. Tak lama bibir junior berdarah dan menetes di telapak tangannya.


ismoko.widjaya@vivanews.com

Identitas Dua Korban Kekerasan STIP Jakarta
Pihak sekolah tidak mendapat laporan adanya kekerasan dari taruna korban.
Selasa, 9 Februari 2010, 09:45 WIB
Ismoko Widjaya
Beredar Video Kekerasan di STIP Jakarta

VIVAnews - Video kekerasan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta beredar. Kementerian Perhubungan yang membawahi STIP mengakui bahwa itu adalah gambar pada tahun 2006. Korban dan pelaku sudah lulus.

“Bisa dilihat dari seragam tarunanya. Seragam itu sudah berubah mulai 2008,” kata juru bicara Kementerian Perhubungan Bambang S Ervan kepada VIVAnews, Selasa 9 Februari 2010.

Pihak sekolah tidak mendapat laporan adanya kekerasan dari taruna korban. Sekolah juga baru mengetahui kejadian setelah video itu beredar.

Kendati demikian, data-data korban sudah ada di Kementerian Perhubungan. “Taruna yang dipukuli bernama Manurung Hutagalung dan Manuputty,” ujar Bambang.

Dua korban kekerasan itu diketahui adalah angkatan 48 dan sudah diwisuda pada 2009. Untuk pelaku pemukulan, senior korban juga sudah diwisuda.

Seperti diketahui, dalam gambar rekaman terlihat tiga mahasiswa junior STIP Jakarta menjadi bulan-bulanan pemukulan seniornya. Dua di antaranya mengalami luka di wajah dan bibir hingga berdarah.

Kekerasan ini terekam dalam sebuah video amatir yang beredar. Video ini memperlihatkan sejumlah taruna junior dibariskan di sebuah lorong. Mereka kemudian ditempeleng dan dipukul.

Tampak seorang senior memegang kepala junior, sementara senior lainnya menampar wajah sang junior. Tak lama bibir junior berdarah dan menetes di telapak tangannya.

ismoko.widjaya@vivanews.com

Narsis Akar Kekerasan

Author : Putri Yunifa

Ilustrasi kekerasan (Nadya)

VIVAnews - Dasar narsis…! Siapa tidak kenal istilah narsis ini sekarang? Mungkin mayoritas orang kenal, atau setidaknya pernah dengar.

Istilah ini biasa ditujukan buat mereka yang tampak memuja dirinya sendiri. Biasanya melalui foto-foto atau gambar dirinya yang dieskpos di wilayah publik. Tentu, hanya gambar yang menonjolkan citra positif dirinya.

Menjadi narsis kemudian hanya dimaknai sebagai bagian dari gaya hidup; sesuatu yang ringan dan menyenangkan. Namun tahukah Anda, bahwa narsis merupakan salah satu akar kekerasan?

Erich Fromm, pakar psikoanálisis dan filsuf sosial pernah menyinggung narsisisme ini dalam bukunya; Akar Kekerasan (The Anatomy of Human Destructiveness).

Yang menarik, Erich mengaitkannya dengan agresi. Agresi selama ini dikenal sebagai dorongan untuk merusak atau bersifat destruktif. Menurutnya, salah satu sumber agresi defensif (agresi untuk bertahan) terpenting adalah terlukainya perasaan narsisistik.

Narsisisme itu sendiri apa? Secara umum, narsisisme bisa dipahami sebagai kecintaan terhadap diri. Menurut legenda, istilah narsis ini berasal dari nama putra dewa Cephisus dan peri Liriope bernama Narcisus. Konon, Narcisus jatuh cinta pada bayangannya sendiri dan berhasrat untuk merengkuhnya.

Tentu saja mustahil, dan Narcisus merana hingga akhirnya berubah menjadi bunga yang dinamai Narcisus. Di tangan Erich Fromm, istilah narsis atau narsisisme kemudian digambarkan sebagai kondisi pengalaman seseorang saat mana dia merasakan bahwa sesuatu yang benar-benar nyata hanyalah tubuhnya, kebutuhannya, perasaannya, pikirannya, kekayaannya, atau benda-benda serta orang-orang yang masih ada hubungan dengannya.

Sedangkan orang-orang yang tidak menjadi bagian darinya atau tidak dia butuhkan, tidak sepenuhnya nyata, dan hanya dipahami sebatas nalar. Hanya dirinya dan benda-benda yang ada hubungan dengannyalah yang memiliki arti; lain dari itu tidak memiliki nilai atau tidak menarik.

Orang-orang narsistik biasanya memperoleh rasa aman melalui keyakinan subyektifnya bahwa ia sempurna atau unggul atas orang lain, bukan melalui penilaian orang lain atas karya nyata ataupun prestasinya.

Jika seseorang narsistik mendapat kritikan, ralat ataupun kekalahan, ia akan merasa terancam. Biasanya ia lantas akan bereaksi dengan kemarahan yang amat sangat, dengan atau tanpa memperlihatkannya, dan disadari atau tidak.

Kita seringkali menemukan tokoh politik ataupun pemerintah yang menunjukkan sifat narsistik ini. Alih-alih mendengarkan kritik dari rakyatnya, yang terjadi malah ia balik menunjukkan sikap tersinggung atau marah.

Salah satu yang masih hangat di ingatan kita, betapa marahnya para anggota dewan terhadap lagu “Gossip Jalanan” yang diciptakan Slank. Contoh lain yaitu Walikota Solo yang marah-marah ketika mendapat kritikan dari ketua dewan berkaitan penyusunan anggaran yang dianggap kurang tajam menempatkan prioritas.

Apakah narsisisme hanya berlaku individu? Ternyata Erich Fromm juga mengungkap mengenai narsisisme kelompok. Narsisisme jenis ini meletakkan kelompok sebagai obyek narsisisme.

Individu narsistik dapat sepenuhnya menyadari narsisismenya, dan mengungkapkannya tanpa hambatan apa pun dengan kelompoknya. Kelompok akan menerima sepenuhnya ungkapan narsistik individu tersebut, bahkan dianggap sebagai bagian dari kesetiaan terhadap kelompok.

Kelompok narsistik ini biasanya membangun kenyataan berdasarkan konsensus yang dibangun, bukan pemikiran atau pengkajian kritis.

Narsisisme kelompok berguna dalam meningkatkan solidaritas kelompok, dan memberikan kepuasan bagi para anggota kelompok terutama dalam hal kepercayaan diri.

Sekalipun anggotanya adalah orang paling miskin dari anggota lain, dia dapat mengkompensasikan keadaannya dengan merasa bahwa: “Saya adalah bagian dari kelompok terhebat di dunia.”

Hal ini menjadikan kadar narsisme kelompok menjadi merata di antara anggotanya. Dari sinilah muncul fanatisme, yang menjadi ciri khas narsisisme kelompok.

Sama halnya dengan narsisisme individu, narsisisme kelompok ini mudah bereaksi keras terhadap segala bentuk pelecehan kelompoknya. Bahkan dalam konteks pertentangan antar kelompok karena masing-masing merasa dilecehkan, citra narsistik suatu kelompok akan naik seiring merosotnya citra kelompok lain.

Kelompok yang unggul akan menjadi “pembela martabat bangsa, penjaga kesatuan dan persatuan bangsa, serta pembela moralitas dan hak asasi manusia” misalnya. Sementara kelompok yang kalah akan menerima citra buruk seperti buas, brutal, tidak bermoral, pemberontak dan sebagainya.

Dalam konteks Indonesia, kita bisa dengan mudah menemukan narsisisme kelompok ini diterapkan lewat kelompok-kelompok radikal. Lewat ciri khas fanatisme yang menonjol, serta menganggap kelompoknya sebagai paling benar berdasarkan konsensus internal.

Front Pembela Islam, Laskar Jihad, dan kelompok-kelompok yang bertikai dalam konflik di berbagai wilayah di Indonesia merupakan contoh dari narsisisme kelompok ini. Dan tidak heran memang, jika anggota kelompok yang bertikai tersebut ternyata rata-rata miskin, tidak berpendidikan, atau bahkan pengangguran.

Negara pun bisa termasuk dalam pelaku narsisisme kelompok ini, ketika kita melihat bahwa aparatnya memerangi mereka yang dianggap melecehkan simbol-simbol kenegaraan (yang juga menjadi simbol narsisisme kelompok).

Contoh hasil dari narsisisme kelompok lainnya adalah lahirnya UU Pornografi, yang perumusannya dibuat lebih banyak berdasarkan konsensus kelompok tertentu, bukannya pemikiran kritis yang berkembang. Untuk diingat, narsisisme kelompok bekerja ketika kenyataan yang dibangun hanya berdasarkan konsensus kelompok semata, bukan berdasarkan pemikiran kritis dan obyektif.

Termasuk misalnya, kenyataan mana yang “porno” dan mana yang tidak. Dalam konteks ini, agresi bahkan kekerasan bisa muncul sewaktu-waktu, ketika kelompok tertentu merasa stándar nilainya soal “pornografi” (baca: simbol narsistik) dilecehkan oleh kelompok lain.

Kecenderungan narsisisme pada dasarnya selalu ada pada setiap individu maupun kelompok. Agar tidak berkembang menjadi kekerasan, dibutuhkan keberanian untuk membuktikan kepada masyarakat luas bahwa impian narsisismenya bukan omong kosong belaka.

Dengan demikian, lebih kecil kemungkinan timbul penolakan dari masyarakat luas yang akan memicu perlawanan bahkan kekerasan. Jika memang impian seorang politikus adalah “menjadi publik figur yang terhormat”, ya janganlah korupsi, jangan pula money politic, atau menyalahgunakan kekuasaan.

Atau, jika suatu kelompok mempunyai impian “sebagai kelompok paling bermoral”, ya masyarakat harus dibuat yakin bahwa kelompok ini memang kelompok bermoral dan bukan perusak atau barbar. Tentu saja untuk mengetahui penyebab agresi kelompok ini harus memahami peranan narsisisme dalam kelompok tersebut.

Nah, sejauh manakah tingkat narsisisme Anda saat ini berpotensi memicu kekerasan?

Logo Media Bersama

Mahasiswa Tewas di Masa Orientasi
Polisi Periksa Panitia Ospek Kampus STSN
Mereka diduga mengetahui ihwal tewasnya Wisnu Anjar (17 tahun).
Senin, 28 September 2009, 06:33 WIB
Amril Amarullah
Ilustrasi Polisi (AP Photo)

VIVAnews - Sedikitnya 10 orang saksi dari panitia dan senior Orientasi Pengenalan Kampus (Ospek) Sekolah Tinggi Sandi  Negara (STSN), Bogor, diperiksa Polres Bogor. Mereka diduga mengetahui ihwal tewasnya Wisnu Anjar (17 tahun), warga Jalan Danau Tondano III/138, RT 02/03, Kelurahan Abadi Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat.

Hal itu diungkapkan, Kasat Reskrim Polres Bogor, Ajun Komisaris Polisi, Muhammad Santoso, di Rumah Sakit Umum Palang Merah Indonesia, Bogor, Minggu 27 September 2009. Ia mengatakan, berdasarkan hasil otopsi sementara oleh petugas forensik RSU PMI Bogor ditemukan banyak luka lebam pada tubuh korban akibat benturan benda tumpul.

“Jadi untuk mengetahui penyebab kematian mahasiswa STSN tersebut, mala mini juga kami akan memeriksa beberapa saksi,” ujarnya.

Sementara itu, Kusmanto (52), ayah korban, menyerahkan sepenuhnya penyelidikan kepada kepolisian. “Karena saya orang awam, saya serahkan sepenuhnya pada pihak kepolisian. Jika dalam hasil penyelidikan ditemukan terdapat tindak kekerasan, maka pihak kepolisian yang lebih tahu,” katanya.

Sementara itu Adi  (27), alumni STSN tahun 2001, menyebutkan Ospek dikampusnya ada empat tahap selama 90 hari. “Nah, tahap yang diikuti korban ini adalah tahap pertama yakni pengenalan kampus, karena ia baru masuk pada Kamis lalu, ” ujarnya.

Biasanya menurut Adi, pelaksanaan kegiatan tahap pertama ini hanya pengenalan kampus dan diri siswa. “Untuk itu para siswa yang diterima 40 orang ini tidur di barak asrama kampus,” ujarnya.

STSN tempat korban sekolah itu berlokasi di Jalan Kampung Nutug Nutu, Desa Putat Nutug, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kerabat Wisnu bernama Teguh sangat curiga dengan kematian anggota keluarganya yang dikenal yang sangat pintar dan cerdas itu.

“Saat kami di konfirmasi pihak sekolah, korban meninggal dan sekarang di rawat di Rumah Sakit Citra Insani, Parung, Bogor,” ungkap Teguh. Saat ini, jasad korban dikirim ke RS PMI Bogor untuk dilakukan otopsi. Keluarga berharap, otopsi ini dapat mengungkap tabir kematian Wisno.

Keluarga juga sangat menyesalkan tidak adanya dokter dan para medis serta klinik di sekolah tinggi saat korban di Rumah Sakit Citra Insani. “Jadi kami berharap pihak berwenang dalam hal ini kepolisian resor Bogor untuk mengusut tuntas kasus,” kata dia.


10 Februari 2010 - Posted by | 1

1 Komentar »

  1. [...] Kejam Mana STIP dengan IPDNFebruary 2010 [...]

    Ping balik oleh thank for wordpres.com « MMUTP…Ada Apa? | 8 Januari 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.