MMUTP…Ada Apa?

"mari berbagi bersama"

Bagaimana Sekolah Mendidik Anak Anda?

Senin, 25 Januari 2010 | 11:35 WIB

shutterstock

Ilustrasi: Siswa tak perlu membohongi dirinya sendiri dengan berbuat curang atas nilai-nilai yang pantas diraihnya. Para pendidik pun bisa mengerti, sejauh mana anak didiknya sudah menyerap materi pelajaran.

JAKARTA, KOMPAS.com — Apakah anak Anda sudah mampu menganalisis sebuah materi pelajaran yang diberikan oleh gurunya? Berdasarkan kemampuan analisisnya itu, apakah dia juga bisa menceritakan kembali materi pelajaran tersebut kepada orang lain, baik itu temannya, gurunya, maupun orangtuanya sendiri? Bagaimana dengan anak Anda?

Dengan kemampuan analisa itu, evaluasi kemampuan akademik seorang anak didik lebih bisa dipertanggungjawabkan.
– Antarina SF Amir

Hilmi Panigoro, orangtua siswa Sekolah High/Scope Indonesia (SHI), mengatakan, kemampuan analisis anaknya saat ini bisa dilihat dari kemampuannya mempresentasikan sebuah ide dan mengurai cara ia akan melaksanakan ide-ide tersebut. Hanya saja, Hilmi menyayangkan dunia pendidikan di Indonesia saat ini yang kurang meng-encourage seluruh potensi anak didik agar bisa seperti itu.

“Potensi mereka tidak dikembangkan karena anak-anak didik itu sendiri dibuat tidak merdeka dengan ide-idenya,” ujar Hilmi, dalam paparan slide presentasi seminar dan Open House SHI: “Changing, So Why Choose a School That Hasn’t Changed?” di SHI TB Simatupang, Sabtu (23/1/2010).

Menurut Antarina SF Amir, Managing Director SHI, yang menjadi narasumber pada seminar tersebut, dengan kemampuan analisis tersebut, evaluasi kemampuan akademik seorang anak didik lebih bisa dipertanggungjawabkan, baik kepada sekolah, orangtua murid, maupun bagi anak didik itu sendiri. Mereka sudah tak lagi terpasung untuk berprestasi hanya berdasarkan nilai atau angka-angka.

“Orangtua tidak perlu risau lagi akan kemampuan anaknya, apalagi sampai harus memberi tekanan mental hingga si anak dinggap telah berprestasi,” ujarnya.

Dengan begitu, siswa tidak perlu membohongi dirinya sendiri dengan berbuat curang atas nilai-nilai yang pantas diraihnya. Para pendidik pun bisa mengerti, sejauh mana anak didiknya sudah menyerap materi.

Indi Handoyo, orangtua siswa SHI lainnya, mengatakan, pembinaan pola pikir anak tidak akan pernah bisa dikembangkan jika fokus pembelajaran di sekolah hanya pada nilai-nilai akademik yang berupa angka-angka di rapor.

“Saat ini rasa percaya diri anak saya benar-benar keluar, dia seperti tidak pernah takut salah untuk mengeluarkan pendapatnya,” ujar Indi.

Indi merasa, pembinaan terhadap pola pikirnya sudah berhasil ditanamkan oleh sekolah. Dia mengaku, anaknya memang diperlakukan sebagai subyek, bukan obyek pendidikan sekolahnya.

“Dia pede atas apa saja yang sudah dikatakannya,” komentar Kasiyati, orangtua siswa lainnya di sekolah tersebut.

“Learning Goals”…. Itulah Tanggung Jawab Sekolah pada Anak Didik
Senin, 25 Januari 2010 | 10:48 WIB

shutterstock

Ilustrasi: Saat ini, potensi anak didik banyak yang tidak bisa berkembang di sekolah karena mereka sendiri dibuat tidak merdeka dengan ide-idenya, mereka terpasung untuk berprestasi dengan angka-angka

JAKARTA, KOMPAS.com — Anak-anak didik datang ke sekolah bukan untuk dites dan diuji semata dalam bentuk nilai atau angka-angka, seperti saat ini yang tengah terjadi pada Ujian Nasional (UN).

Anak didik adalah subyek pendidikan, yang justru harus mengetahui learning goals (tujuan pembelajaran) sesungguhnya atas semua yang pernah dipelajari dan diterimanya di sekolah. Untuk itu, ujian bagi anak didik tidak cukup hanya berpegang pada satu sisi, yaitu kemampuan akademik mereka, yang hanya dibuktikan dengan angka-angka.

Demikian diungkapkan oleh Managing Director Sekolah High/Scope Indonesia (SHI) Antarina SF Amir dalam seminar dan Open House SHI: “Changing, So Why Choose a School That Hasn’t Changed?” di SHI TB Simatupang, Sabtu (23/1/2010).

Antarina mengatakan, kewajiban pendidik memberikan ujian kepada anak didiknya harus didasarkan pada dua hal, yaitu kemampuan analisis dan soft skills.

“Apakah anak didik sudah mampu menganalisa setiap materi yang diberikan oleh si guru dan apakah dia bisa menceritakan kembali berdasarkan kemampuan analisanya tentang materi itu kepada orang lain, baik itu temannya maupun gurunya, itulah yang harusnya diujikan,” kata Antarina.

Dia menambahkan, dengan cara itulah, evaluasi kemampuan anak didik lebih bisa dipertanggungjawabkan, baik kepada sekolah, orangtua murid, maupun anak didik itu sendiri. Siswa tidak perlu membohongi diri sendiri dengan berbuat curang atas nilai-nilai yang pantas diraihnya. Pendidik pun bisa mengerti sejauh mana anak didiknya menyerap materi.

“Orangtua pun tidak perlu risau akan kemampuan anaknya, apalagi sampai harus memberi tekanan mental hingga si anak dinggap telah berprestasi,” ujarnya.

Hilmi Panigoro, orangtua siswa SHI, mengatakan, kemampuan analisis anaknya saat ini bisa dilihat dengan kemampuannya mempresentasikan ide dan melaksanakan ide-ide itu. Hilmi menyayangkan dunia pendidikan di Indonesia yang saat ini kurang meng-encourage seluruh potensi anak didik untuk bisa seperti itu.

“Potensi mereka tidak dikembangkan karena anak-anak didik itu sendiri dibuat tidak merdeka dengan ide-idenya, mereka terpasung untuk berprestasi dengan angka-angka,” ujar Hilmi.

Sementara itu, menurut Indi Handoyo, orangtua siswa lainnya yang hadir di seminar itu, pembinaan pola pikir anak tidak akan pernah bisa dikembangkan jika fokus pembelajaran di sekolah hanya pada nilai-nilai akademik yang berupa angka-angka di rapor.

“Saat ini rasa percaya diri anak saya benar-benar keluar dan dia seperti tidak pernah takut salah untuk mengeluarkan pendapatnya. Saya merasa pembinaan terhadap pola pikirnya sudah berhasil ditanamkan oleh sekolah,” ujar Indi.

Di Sekolah, Anak-anak Bukan untuk Diuji…
Senin, 25 Januari 2010 | 10:22 WIB

shutterstock

Ilustrasi: Sudahkah anak didik bisa menceritakan kembali,– berdasarkan kemampuan analisanya, sebuah materi pelajaran kepada orang lain, baik itu temannya maupun gurunya

JAKARTA, KOMPAS.com — Sebagai sebuah bentuk evaluasi, assessment atau ujian mutlak diperlukan. Hanya saja, ada tolok ukur dan standar yang benar-benar perlu disiapkan untuk memberikan ujian kepada anak.

“Apakah si anak didik sudah mampu menganalisis setiap materi yang diberikan oleh si guru?”
– Antarina SF Amir/Managing Director SHI

Demikian terungkap dalam materi seminar yang disampaikan Managing Director Sekolah High/Scope Indonesia (SHI) Antarina SF Amir  di Open House SHI: “Changing, So Why Choose a School That Hasn’t Changed?” di SHI TB Simatupang, Sabtu (23/1/2010).

“Setelah diuji lalu apa, lalu kalau diuji si anak ternyata tidak bisa bagaimana?” ujarnya.

Anak-anak didik datang ke sekolah bukan untuk dites dan diuji semata dalam bentuk nilai atau angka-angka, seperti saat ini yang terjadi pada ujian nasional (UN). Anak didik, ujarnya, adalah subyek pendidikan yang justru harus mengetahui learning goals (tujuan pembelajaran) sesungguhnya atas semua yang pernah dipelajari dan diterimanya di sekolah.

Untuk itu, ujian bagi anak didik tidak cukup hanya berpegang pada satu sisi, yaitu kemampuan akademik mereka yang hanya dibuktikan dengan angka-angka. Antarina mengatakan, bahwa kewajiban pendidik memberikan ujian kepada anak didiknya harus didasarkan pada dua hal, yaitu kemampuan analisa dan soft skills.

“Apakah anak didik sudah mampu menganalisis setiap materi yang diberikan oleh si guru dan apakah dia bisa menceritakan kembali berdasarkan kemampuan analisanya tentang materi itu kepada orang lain, baik itu temannya maupun gurunya, itulah yang harusnya diujikan,” kata Antarina.

Dia menambahkan, dengan cara itulah evaluasi kemampuan anak didik lebih bisa dipertanggungjawabkan, baik kepada sekolah, orangtua murid, maupun anak didik itu sendiri. Siswa tidak perlu membohongi diri sendiri dengan berbuat curang atas nilai-nilai yang pantas diraihnya. Pendidik pun bisa mengerti sejauh mana anak didiknya menyerap materi.

“Orangtua pun tidak perlu risau akan kemampuan anaknya, apalagi sampai harus memberi tekanan mental hingga si anak dianggap telah berprestasi,” ujarnya.

Tujuan Pendidikan? Kita Memang Sering Lupa….
Selasa, 19 Januari 2010 | 17:50 WIB

M.LATIEF/KOMPAS IMAGES

Ilustrasi: Tujuan pendidikan di sebuah sekolah adalah menjadikan anak didik bisa membuat keputusan yang tepat dalam hidupnya dengan nilai-nilai kreatif serta menjunjung moralitas yang tinggi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembuat kebijakan, pengelola sekolah, guru, serta orangtua murid seringkali lupa, bahwa belajar di sekolah bukan semata untuk mendapatkan nilai dan prestasi akademik. Sudah saatnya dunia pendidikan Indonesia harus meninggalkan paradigma lama tersebut.

“Bisa mengambil keputusan dengan baik sesuai nilai-nilai yang kreatif dan moralitas yang tinggi, untuk itulah intinya tujuan ke sekolah”
– Antarina S.F Amir/Managing Director SHI

Paradigma tersebut selalu memandang tujuan pendidikan di sekolah hanya berdasarkan ukuran-ukuran akademik. Padahal sebetulnya, tujuan atau ultimate goal pendidikan di sebuah sekolah adalah menjadikan anak didik bisa membuat keputusan yang tepat dalam hidupnya dengan nilai-nilai kreatif serta menjunjung moralitas yang tinggi.

Demikian menurut Antarina S.F Amir, Managing Director Sekolah High/Scope Indonesia (SHI) kepada Kompas.com, Selasa (19/1/2010), di Jakarta. Dia menambahkan, konsep pendidikan di sekolah seharusnya menerapkan nilai-nilai semacam itu sebagai sebuah kebiasaan.

“Bisa mengambil keputusan dengan baik sesuai nilai-nilai tadi, untuk itulah intinya mereka ke sekolah. Itu harus dijadikan kebiasaan, agar pada akhirnya mereka bisa melihat permasalahan dan menghargai setiap perbedaan dalam mencari solusi permasalahan itu dengan jujur dan kreatif,” ujarnya di sela persiapan Open House SHI: “Changing, So Why Choose a School That Hasn’t Changed?” di SHI TB Simatupang pada 23 Januari 2010 dan beberapa cabang SHI lainnya di Indonesia.

Teknisnya, kata Antarina, setiap guru harus menerapkan sesi tersendiri yang khusus membahas nilai-nilai, baik itu melalui kaca mata pelajaran ilmu sosial maupun sains. Di semua mata pelajaran tersebut, kata dia, seorang guru harus bisa menyisipkan nilai-nilai tersebut.

“Di setiap mengerjakan tugas, bertutur dan bersikap, kami selalu masukkan skil-skil problem solving. Kami punya sistem pemecahan masalah, yaitu menemukan sebuah masalah, guru bertindak sebagai mediator, dan siswa bisa memediasikan cara pengambilan keputusan untuk pemecahan masalah itu,” ujar Antarina.

Antarina menambahkan, ketika sekolah lain hanya menawarkan prestasi akademik, SHI menawarkan sebuah perpaduan antara prestasi akademik dan konsep character community and culture development atau 3 CD. Dengan konsep tersebut, anak didik diajak membahas masalah kehidupan sehari-hari di sekelilingnya berdasarkan agama yang mereka anut.

“Filosofinya adalah control sharing, bahwa kami ingin agar guru dan anak didik itu bisa saling berbagi, berbagi cara mengambil keputusan. Bagi kami, ada saatnya anak didik juga memiliki kewenangan untuk membuat keputusan, bukan hanya guru yang bisa dan berhak menjadi decision maker di kelas,” kata dia.

“Digital Native”, Perubahan Ini Harus Dicermati
Selasa, 19 Januari 2010 | 14:45 WIB

shutterstock

Ilustrasi: Anak harus dilibatkan dalam semua proses pendidikan, karena anak didik bukan obyek tetapi justeru subyek pendidikan itu sendiri.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembuat kebijakan, pengelola sekolah, guru, serta orangtua murid seringkali lupa, bahwa belajar di sekolah bukan semata untuk mendapatkan nilai dan prestasi akademik.

“Saat ini adalah masa digital native bagi anak-anak kita, itulah perubahan yang sedang terjadi”
– Antarina S.F Amir/Managing Director SHI

Kini, saatnya dunia pendidikan Indonesia harus meninggalkan paradigma lama tersebut. Paradigma yang selalu memandang tujuan pendidikan di sekolah hanya berdasarkan ukuran-ukuran akademik.

Demikian dikatakan oleh Antarina S.F Amir, Managing Director Sekolah High/Scope Indonesia (SHI), Selasa (19/1/2010), di Jakarta, menyambut persiapan Open House SHI: “Changing, So Why Choose a School That Hasn’t Changed?” di SHI TB Simatupang pada 23 Januari 2010 dan beberapa cabang SHI di Indonesia.

Menurutnya, saat ini dunia pendidikan Indonesia harus meninggalkan paradigma lama, bahwa ke sekolah bukan semata untuk mendapatkan nilai dan prestasi akademik. Hanya, untuk mengubah paradigma lama tersebut, fokus pendidikan sekolah tidak cukup hanya berpokok pada siswa. Orangtua murid pun harus dilibatkan secara aktif untuk mendukungnya dengan bersikap maju dan open minded.

Changed, karena kami ingin merubah paradigma lama itu, yaitu menawarkan sebuah paradigma tentang pendidikan yang tidak satu arah,” ujar Antarina.

Dia mengatakan, anak harus dilibatkan dalam semua proses pendidikan, karena anak didik bukan obyek tetapi justeru subyek pendidikan itu sendiri. Lepas dari hal tersebut, kata dia, orang tua murid pun tak bisa dibiarkan begitu saja untuk hanya menerima hasil didikan pengelola sekolah.

“Semua ini untuk masa depan anak, karena dunia sudah berubah dan akan terus berubah. Saat ini adalah masa digital native bagi anak-anak kita, itulah perubahan yang sedang terjadi,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini anak didik semakin gampang menyerap segala hal dari dunia digital. Anak-anak kini lebih sulit berkonsentrasi, karena mobilitas mereka lebih tinggi, sosialisasinya pun semakin tinggi akibat fenomena digital.

“Perubahan inilah yang saat ini harus diperhatikan pada anak-anak didik kita. Dunia di sekitarnya berubah, mereka juga berubah,” kata Antarina.

Antarina mengatakan, semestinya yang menjadi fokus pendidikan nasional ke depan adalah bukan lagi hanya hanya akademik. Paradigma itu mutlak harus diubah, sehingga harusnya dicamkan, bahwa pendidikan bukan hanya tugas guru, tetapi juga masyarakat secara luas untuk terlibat.

<!–/ halaman berikutnya–>

<!–/ halaman berikutnya–>

<!–/ halaman berikutnya–>

25 Januari 2010 - Posted by | Pendidikan dan Karya tulis | ,

1 Komentar »

  1. saya sangat membutuhkan pengetahuan,karena anak saya diusia 4,5th sangat aktif,menurut dokter kelebihan energi jadi kalau tidak tidur ya..ada saja yang dikerjakan.

    Komentar oleh fandy | 29 April 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.